Kamis, 20 Maret 2014

KISAH WANITA CANTIK YANG MENCARI PEMUDA SETAMPAN NABI YUSUF AS




Pada Suatu hari ada seorang perempuan Arab yang sangat cantik dan terkenal. Semua pemuda ingin melamarnya. Namun, perempuan cantik itu belum juga memutuskan dengan siapa dia akan menikah. Dia merasa tidak ada satu pe­muda pun yang pantas bersanding dengannya.

Semakin lama, perempuan cantik itu semakin bangga dengan kecantikannya. Ia semakin menyepelekan setiap pemuda yang datang kepadanya.

"Aku hanya ingin menikah dengan pemuda setampan Nabi Yusuf," katanya.

Perempuan cantik itu kemudian memutuskan untuk mencari pemuda setampan Nabi Yusuf. Suatu hari, dia berjalan ke sebuah kota yang sangat ramai. Di tengah peijalanan, dia bertemu dengan seorang nenek tua. Akhirnya, dia berjalan bersama nenek itu.

"Nenek tua, apakah kau bisa membantuku menemukan pemuda setampan Nabi Yusuf yang akan menjadi suamiku?" tanya si perempuan cantik.

Si nenek tua menatapnya. "Hai perempuan cantik, apakah kau sudah pernah melihat ketampanan Nabi Yusuf?"

Perempuan cantik itu menggeleng.

Si nenek tua kembali bertanya, "Jika begitu, bagaimana kau bisa mendapatkan lelaki yang setampan dia, sedangkan kau belum pernah melihatnya?"

Perempuan cantik itu diam saja mendengar pertanyaan si nenek.

Keduanya berjalan beriringan. Mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu terlihat sangat subur dan hijau.

Perempuan cantik bertanya, "Menurut nenek, apakah di kampung ini ada pemuda setampan Nabi Yusuf yang akan menjadi suamiku?"

"Pertanyaanmu aneh sekali. Aku saja baru melewati kampung ini dan aku tidak tahu apakah ada pemuda tampan di sini. Tapi menurutku, semua pemuda itu tampan. Bukankah kau tidak tahu setampan apa Nabi Yusuf?" tanya si nenek.

Perempuan cantik itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan nenek tua. Mereka kembali meneruskan perjalanan. Baru setengah perjalanan, mereka bertemu dengan sekumpulan pemuda yang sedang berburu.

Si perempuan berbisik, "Apakah di antara pemuda itu ada yang setampan Nabi Yusuf?"

Nenek menjawab, ``Aku semakin tidak mengerti dengan keinginanmu, perempuan cantik. Bukankah semua pemuda itu tampan? Aku lihat, mereka banyak yang menyukaimu. Cepatlah memilih dan menikah."

Perempuan cantik itu diam dan tidak menjawab sepatah kata pun mengenai komentar si nenek. Lalu mereka terus melanjutkan perjalanan demi perjalanan sampai bertahun-tahun hingga akhirnya sampailah keduanya di sebuah hamparan tanah luas nan gersang.

"Nenek, bagaimana mungkin aku dapat menemukan pemuda setampan Nabi Yusuf di hamparan gersang ini?" tanya si perempuan cantik.

Nenek memandangnya, "Jikapun ada pemuda tam­pan di sini, mereka tentu takkan menoleh kepadamu. Wajahmu tak lagi cantik dan kau sudah menua," kata si nenek sambil mengeluarkan sebuah cermin.

Tanpa disadari, si perempuan cantik itu kini sudah menjadi tua. Perjalanan yang dilakukan dengan si nenek telah memakan waktu puluhan tahun dan menyedot kecantikannya. Ternyata, si nenek adalah malaikat yang berusaha menyadarkan perempuan itu.

... "Jika ada yang menunda suatu pernikahan hanya karena ingin mencari sosok impian yang ideal menurutnya sendiri, berhati-hatilah karena bisa jadi dia akan kehilangan semuanya. Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan." ...

Semoga ALLAH memberikan jodoh bagi siapa yang belum mempunyai jodoh, yang sholeh/sholehah, yang mencintai ALLAH dan Rasul-Nya, dan paham terhadap al-Qur'an, sehingga bisa membimbing anak-anaknya menuju kepada ALLAH. Aamiin

sumber: http://santri-update.blogspot.com/

MAKSUD DAN TUJUAN THARIQAT ALAWIYAH NAQSYABANDIYAH MUHSINIYAH

Maksud dan tujuan thariqat alawiyah naqsyabandiyah muhsiniyah ada empat macam:
1.         Ibtiqa mardhatillah/mengharap ridha Allah SWT
Ibtiqa mardhatillah/mengharap ridha Allah SWT adalah penghamba'an diri kepada Allah SWT yang sesungguhnya, itulah arti dari haqiqat ikhlas.
2.         Dawamul ubudiyyah/istiqamah dalam beramal
Dawamul ubudiyyah/istiqamah dalam beramal yaitu senantiasa beribadah dengan zhahir dan bathin
3.         Attakhalliy wattahalliy
Attakhalliy wattahalliy yaitu membersihkan diri dari sifat tercela, dan menghiasi diri dengan sifat terpuji
4.         Husnul khatimah
Husnul khatimah yaitu mati dalam keada'an membawa iman dan cinta kepada Allah SWT.

Asas dalam thariqat alawiyah :
1.       Ilmu
2.       Amal
3.       Wara
4.       Takut kepada Allah SWT
5.       Ikhlas yang di maksud dengan ilmu adalah ilmu yang sesuai dengan syara'.
Ilmu merupakan sumber kebahagia'an di dunia dan akhirat mengamalkan ilmu, yang berarti ibadah merupakan buah dari ilmu yang dimiliki karena dengan tujuan itulah bumi dan langit di ciptakan
Sedangkan arti wara' adalah menjaga diri dari setiap sesuatu yang di anggap jelek oleh syariat, atau sesuatu yang mendekati kejelekan dengan batasan-batasan ilmu pengetahuan.
Takut yang berarti tidak merasa aman. Haqiqat nya hati merasa sakit akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di masa yang akan datang . Takut merupakan buah dan tanda dari ma'rifatullah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman : ''hanya ulama (yang mengerti) yang merasa takut dari hamba-hamba-Nya''.

Ikhlas adalah bersih nya amal, baik pekerja'an hati atau pun pekerja'an badan dari segala kotoran, ikhlas adalah amal baik yang dilakukan hanya semata-mata karena Allah Allah SWT

sumber: Hafidualwi

Rabu, 19 Maret 2014

Biografi Al-Habib Haidarah Bin Muhsin Al-Hinduan (Pembina Thariqat Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah)


Ia benar-benar mendapati "ilmu yang luar biasa"
Dari teladan yang di berikan sang guru.

Pribadinya santai lagi homuris namun, ia juga seorang yang serius, apalagi saat bicara perihal dakwah dan tarbiyah. Pesan-pesan keagamaan, terutama tazkiyatunnafs (penyucian jiwa), atau biasa di sebut tasawwuf, banyak ia sampaikan saat menemui AlKisah di sela-sela kesibukannya berdakwah dan mendidik santrinya, Bertempat di kediamannya, di Desa Duwet, Situbondo, Jawa Timur, ia tampak fasih bicara seputar thariqah, baik teori maupun aplikasinya, Maklum, ia kini aktif sebagai seorang pembina majelis thariqah.

Tidak seperti berdakwah dengan metode tabligh, berdakwah lewat thariqah menuntut adanya ikatan erat antara guru dan setiap muridnya yang harus selalu dikelola secara tepat di setiap saat. Padahal jamaah nya terdiri dari beragam orang dengan latar belakang dan status sosial. Tentu saja, ini membutuhkan ketekunan, ketulusan, keseriusan dan kesabaran ekstra.
Beruntung, thariqah yang ia sebarkan adalah Thariqah Alawiyah yang jua sering di sebut thariqah sahlah atau thariqah yang mudah, sehingga cukup lentur dengan berbagai situasi dan kondisi. Kekayaan khazanah thariqah ini juga sangat membantunya dalam membina jamaahnya, yang awam sekalipun.

Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah

Pada kenyataannya, Thariqah alawiyah, yang bermuara kepada Sayyidina Ali KW, memiliki sanad dengan semua thariqat Ahlussunah Waljamaah, termasuk naqsyabandiyah, yang bermuara pada Sayyidina Abu bakar RA. Sumber kedua sahabat utama itu tentu saja Rasulullah SAW. Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi , dalam Iqdul Yawaqit, banyak menyebut kaitan dua thariqah. Bahkan Habib Abdurahman bin Mustafa Alaydrus menulis sebuah risalah khusus tentang Naqsyabandiyah. 

Atas dasar itulah ia memadukan keduanya. Harapannya masyarakat luas bisa mengakrapi dunia thariqah, segaligus beroleh sanad keilmuan dari kalangan habaib. Namun, tetap ia amat ketat dalam, menanam kan prinsip-prinsip pokok Thariqah Alawiyah yang termuat pada lima asasnya : Ilmu, amal,wara,khauf, dan ikhlas.

Tuntutan syari'at tentu tak lepas dalam aktivitas thareqatnya. Dalam hal ini ia tak sendirian. Sejumlah alumnus Darul Musthafa Tarim dan beberapa Kiayi serta guru setempat turut bersamanya dalam bimbingan syariat pada ikhwan thariqat. Kerja sama itu dengan sendirinya juga memunculkan suasana dakwah yang baik dan terorganisir. Saat ini majelis thariqah yang ia bina melebarkan sayapnya ke berbagai pelosok. Ada sekitar sepuluh pengurus tingkat wilayah, mulai dari Kabupaten Situbondo sebagai pusatnya, Surabaya, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah yang meliputi kota Palangkaraya, Sampit , Pangkalanbun , dan beberapa kota di Kalimantan Barat, Sedang kepeng urusan di tingkat Cabang telah mencapai Ratusan. 

Kepiawaiannya dalam mengemas thareqat menjadi sesuatu yang menarik dan diminati ini bukan suatu yang aneh. Dalam dirinya mengalir darah dari sang Ayah, Tokoh Mursyid besar dalam dunia Thareqah di nusantara, Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan.
Berbagai faktor tersebut membuatnya menamakan majelis thareqah yang ia bina dengan nama "Majelis Thareqah Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah". Maksudnya yang ia sebarkan adalah Alawiyah, yang ia padukan dengan metode dan nilai-nilai yang selaras dalam Naqsyabandiyah , Berdasarkan formula ajaran thariqah yang di warisi Habib Muhsin, Ayahnya.

Haul Al-Faqih Al-Muqaddam 

Disamping lewat thariqah , ia juga mendirikan pesantren yang oleh Gurunya , Habib Umar Bin Hafidz , di beri nama "Adh-Dhiya'ul Musthafawy". Pesantren ini merupakan Pesantren pertama yang didirikan murid Habib Umar, yaitu saat Habib Umar melepaskan kelulusan santri angkatan pertama Darul Musthafa pada tahun 1998. Pesantrennya ini menggunakan kurikulum dan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan Darul Musthafa Tarim, mulai dari materi pelajaran hingga aktivitas sehari-hari, seperti pada qiyamul lail, khuruj dakwah, hafalan-hafalannya. Ketika baru-baru ini Darul Musthafa Tarim mengubah kurikulum dan sistem pengajaranya, pesantren ini pun berusaha mengikuti induknya tersebut, meski tidak seratus persen.

Berkat kerja sama pengurus pesantren dan para ikhwan thariqah binaannya, pesantren ini memiliki program beasiswa kepada para santri berprestasi untuk melanjutkan studi ke Hadhramaut. Ada sekitar tujuh santrinya yang kini sedang belajar di Tarim, baik di Darul Musthafa ataupun di Rubath Tarim. Beberapa alumnus hasil didikannya telah menyelesaikan studinya di sejumlah perguruan di Timur Tengah, diantaranya Alwi Al-Habsyi, yang telah mendirikan pesantren di Alalak, Banjarmasin, Ibrahim Assegaf dan Musthofa Assegaf yang telah berkiprah dengan majelis ta'limnya di kota Kintap, Kalimantan Selatan, dan Syarif Hamid Al-Qadri, dai muda dan penulis produktif, kini berdomisili di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Selain aktivitas sehari-hari dipesantren, setiap tahun ini juga mengadakan sejumlah kegiatan rutin, terutama dengan memanfaatkan momen-momen keagamaan yang ada. Yang paling menonjol dari kegiatan dakwah tahunan yang ia lakukan adalah penyelenggaraan haul Faqih Al-Muqaddam, setiap bulan Muharram, yang telah ia gelar sejak 2001. Pelaksanaannya bisa memakan waktu hampir satu bulan dan dilaksanakan di sejumlah lokasi pada beberapa kota. Waktunya ia sesuaikan, agar tak berbenturan dengan kedatangan Habib Umar Bin Hafidz, yang setiap Muharram datang ke Indonesia.
Saat ditanya lebih jauh tentang profil pribadi dan perjalanan hidupnya, Habib Haidarah kerap meng hindar. Ia tetap lebih suka membicarakan tema-tema dakwah dan tarbiyah. Berbekal sedikit informasi darinya yang kemudian banyak dilengkapi oleh sejumlah orang dekatnya, gambaran sosok Habib Haidarah dapat alKisah hidangkan untuk Anda di sini.

Berjumpa dengan Habib Ali Al-Jufri

Habib Haidarah lahir diPontianak, dari pasangan Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan dan Syarifah Khadijah Al-Mahdali. Ayahnya Wafat saat ia baru berusia 10 tahun. sejak itu, ia dan adik-adiknya diasuh oleh ibundanya, di Situbondo Jawa Timur. Pendidikan SD dan SLTP-nya diselesaikan di kota Situbondo, lalu ia masuk Pesantren Malang, Asuhan Ustadz Abdullah Abdun Malang, disana, ia termasuk santri yang menonjol kecerdasannya, sehingga Ustadz Abdullah Abdun pun sangat menyayanginya.

Usai lulus pesantren, ia melanjutkan studinya Ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Di sana ia menjumpai beragam corak pemikiran dan aliran. Latar belakang keluaraganya, yang akrab dengan dunia thariqah, cenderung banyak berhubungan dengan para tokoh thariqah sufi yang ada di mesir, seperti thariqah Burhaniyah, Dasuqiyah, dan sydziliyah.
Ia tidak lama tinggal di Negeri Piramid itu. Tak sampai setahun, ia memutuskan belajar di syiria. Selama belajar di Syria, ia juga menghadiri majelis yang diasuh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthi. Ternyata di Syria pun ia tidak lama, hanya sempat tinggal sekitar tiga bulan. Ia memutuskan kembali lagi ke Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, ia beristikharah, mengharap petunjuk dari Allah SWT : negeri mana yang tepat untuk menjadi tujuan belajarnya setelah itu. 

Di tengah perasaannya yang sedang kalut, hatinya berbisik, “Hadharamaut.” Padahal, saat itu belum ada pelajar asal Indonesia di Hadharamaut seperti sekarang ini. Akibat perang sudara di Yaman, situasi negeri itu pun masih belum kondusif. Namun keinginannya pergi ke Hadharamaut terus menguat. Maka, sebelum kembali ke Mesir, ia telah mengusahakan visa untuk masuk ke Yaman. Sesampainya di Mesir kembali, ia mendengar, seorang dari Hadhramaut tengah datang berdakwah ke Mesir. Ditemani beberapa temannya, ia menemui orang itu. Ternyata orang yang ditemuinya itu adalah Habib Ali Al-Jufri.

Karena banyak bertanya tentang banyak hal, Habib Ali mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk bicara empat mata. Saat ia mengutarakan keininannya belajar di Hadhramaut, Habib Ali tampak sangat senang, hingga ia tawari tiket pesawat ke Yaman untuk berangkat bersama. Ia menolak, karena ia sendiri sebelumnya telah membeli tiket ke Yaman.
Tak lama kemudian, ia pun berangkat ke Hadhramaut, negeri yang saat itu benar-benar asing baginya. Keterangan yang ia dapat dari Habib Ali menjadi petunjuk satu-satunya yang ia miliki ten tang Hadramaut.

Mengenal sosok Habib Umar
Sesampainya di Aden, Yaman, Habib Ali menjemputnya, lalu mereka melanjutkan perjalanan bersama menuju Tarim. Saat itu, tengah berlangsung ziarah Nabiyullah Hud As. Maka, saat masuk Tarim, ia langsung dibawa menuju Bukit Hud. Sebelum sampai di Bukit Hud, ia yang waktu itu masih bercelana panjang, sempat diajak Habib Ali berziarah ke ‘Inat.
Usai ziarah bersama di makam Nabi Hud As, Habib Ali membawanya mendekati Habib umar.

Kepada Habib Ali, Habib Umar bertanya, “Dari mana kau bawa anak ini, ya Ali ?”
Habib Ali menjawab,”Dari Mesir.”
Lalu Habib Umar bertanya kepadanya, “Kau mau belajar kepada kami ?”
“Iya,” jawabnya.
“Ahlan wa sahlan bi washiyati rasulillah - Selamat datang, wasiat rasulullah,” habib Umar menyambut. Sejak itulah ia belajar kepada Habib Umar. Saat itu pelajar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di Tarim, cuma ia dan dua temannya, Habib Ali Zainal abidin Al-Hamid, saat ini kandidat doktor di Malaysia, dan seorang sayyid dari keluarga Al-Habsyi.
Sebuah pengalaman menarik ia dapati di awal kedatangannya di kota Tarim.

Dalam perjalanan dari Mesir, ia berjumpa Sayyid Ibrahim Ar-Rifa’i, seorang mursyid Thariqah Rifa’iyah di Mesir, yang juga hendak berziarah ke Tarim. Sepanjang perjalanan, Sayyid Ibrahim tak henti-hentinya bershalawat. Usai ziarah Nabi Hud, malam nya dirumah Habib Umar ia tidur di samping Sayyid Ibrahim. Tengah malam Sayyid Ibrahim mendadak terjaga dan mulutnya terus bershalawat . kejadian itu terjadi berulang kali pada malam itu.
Esoknya , usai sholat subuh berjamaah Sayyid Ibrahim selalu mendahulukan orang lain untuk bersalaman dengan Habib Umar, kecuali Habib Haidarah yang menolak di dahulukan. Mungkin maksud sayyid Ibrahim, dengan bersalaman paling akhir, ia dapat langsung berbincang dengan Habib Umar seusai semuanya bersalaman. 
Tinggalah Sayyid Ibrahim dan dirinya yang belum bersalaman dengan Habib Umar. Sayyid Ibrahim lalu bersalaman dengan Habib Umar dan bertanya, dimana kedudukanmu di hati Rasulullah?”
Dengan Tersenyum, Habib Umar balik bertanya “apa yang engkau lihat semalam ?”.
“Aku bermimpi Rasulullah memelukmu dan begitu bangga denganmu.” Jawabnya.
Mendengar jawaban itu. Habib Umar tidak menghiraukan dan segera memerintahkan Sayyid Ibrahim melanjutkan bersalaman dengan jamaah yang lain.
Kejadian tersebut amat membekas di hati Habib Haidarah, yang mendengar langsung dialog singkat itu. Ia semakin mengenal sosok gurunya. Ia pun merasa betah tinggal disana dan benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar kepada Habib Umar dengan sepenuh hati.

Restu Sang Guru
Suatu ketika, ia hendak mengunjungi kerabatnya dari keluaraga Al-Hinduan di kota Aden. Ia pun minta izin Habib Umar untuk pergi satu bulan.
Habib Umar mengizinkan dan berpesan agar selama di sana ia belajar kepada Habib Abu Bakar Al-Masyhur, sehingga waktu sebulan disana bermanfaat.
Benar saja. Di Aden, ia rasakan manfaat amat besar selama berguru kepada Habib Abu Bakar, Selain Alim dan istiqomah, pandangan-pandangannya amat cemerlang dan tak sedikit di antaranya yang belum pernah terlontar oleh para Ulama sebelumnya.
Saat kembali ke Tarim, dengan tersenyum Habib Umar menyambutnya sambil membaca potongan ayat ke-65 dari surah Yusuf , “ Hadzihi bidha’atuna ruddat ilaina ini dia barang milik kami dikembalikan kepada kami.”
Kata-kata itu amat berkesan di hati nya. Bila ia di ingatkan kepada kejadian itu , sontak matanya berkaca-kaca . Begitu besar perhatian dan kasih sayang Habib Umar kepada murid-muridnya. 
Setelah sembilan bulan di Tarim, tibalah sekelompok pelajar Indonesia yang tercatat sebagai angkatan pertama Darul Musthofa, seperti Habib Jindan dan Habib Munzir. Kedatangan mereka semakin membuatnya betah tinggal disana. 
Di Tarim, ia tinggal sekitar dua tahun. kecendrungan hatinya pada dunia thareqat kaum sufi membuatnya berniat mencari guru Thariqah Naqsyabandiyah yang waktu itu ia dengar ada di India, sebelum kepulangannya ke tanah air. Keinginannya itu ia utarakan kepada Habib Umar. Namun Habib Umar tak mengizinkannya dan menyuruhnya tinggal lagi di Tarim selama tiga bulan untuk mempelajari Thariqah Alawiyah. 

Setelah tiga bulan mendalami Thariqah Alawiyah dari Habib Umar, di hatinya tumbuh rasa kagum yang luar biasa pada manhaj thariqah keluarganya ini. Sejak saat itu, berbekal restu dari sang guru, ia pun bertekad untuk kelak menyebarkan nya di tanah air. 
Besarnya perhatian dan kasih sayang sang guru kembali ia rasakan saat hendak berpamitan pulang ke kampung halaman. Habib Umar memberikan kitab kepadanya dan berpesan agar kitab itu tidak dibuka kecuali bila sudah di dalam pesawat. Rasa penasaran menggalayutdi hatinya. Mungkin ada ilmu yang luar biasa yang terkandung dalam kitab tersebut. 



Di dalam pesawat, kitab itu segera ia buka . Tiba-tiba, air matanya pun menetes . Di dalamnya ada uang sebanyak 300 dolar. Ia merasakan perhatian sang guru, yang masih dalam masa-masa awal membangun Darul Musthofa, sampai sedemikian jauh . Ya, ia benar-benar mendapati “ilmu yang luar biasa” dari teladan sang guru. 
Hingga kini , ia terus menjaga jalinan hubungannya dengan Habib Umar, setiap masalah yang ia hadapi pun selalu di utarakan kepada gurunya itu. Sampai sekitar dua bulan silam. Saat berziarah ke Tarim, ia masukan putra sulungnya , Muhamad Amin Quthbi, usia 13 atau 14 tahun, di Darul Musthofa . Amin Quthbi tidak di tempatkan di asrama, tapi di kediaman sang guru. 

Sumber Majalah Al-Kisah edisi 12-25 Jumadil Akhir 1432 H 16-29 Mei 2011 M di tulis ulang oleh blog tarannam kelua Sabtu 27 Sya’ban1434 H 6 Juli 2013 M.

Hafidualwi

Majelis Thariqat Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah

Majelis Thariqat alawiyah naqsyabandiah muhsiniah - taranam
Majelis Thariqat Alawiyah Naqsyabandiyah Muhsiniyah adalah organsasi sufi yang berkiblat kepada 
salafunas shalih yang berada di Hadhramaut-Yaman negeri seribu wali
Muassis Thariqat yaitu Al-Ustzhul A'zhom Al-Faqih Al-Muqaddam
Pembina Thariqat ini di indonesia adalah
Al-Habib Haidarah Al-Hinduan
Putra dari Al-Allamah Al-Habib Muhsin bin Ali Al-Hinduan yang juga sebagai seorang Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Mudzhariyah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


Alhamdulillah ...
Segala puji bagi Allah SWT, sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya
semoga Allah SWT meridhoi blog ini sebagai salah satu tempat berbagi ilmu, pengalaman, rasa cinta yang telah terangkum oleh admin yang bersumber dari para guru, ustadz dan copaz dari berbagai situs yang mendukung kami.